Langsung ke konten utama

Perkembangan Perfilman di Kendal
Dari tulisan yang diposting oleh blog Setia Naka Andrian, yakni “Film dan Ikhtiar Kesadaran Kolektif”, merupakan sebuah esai yang yang sangat menarik. Dilihat dari judulnya saja sudah mampu  menarik perhatian dan minat pembaca untuk mengetahui apa isi dari bacaan tersebut.
Dipostingan tersebut, dibahasnya mengenai sebuah film produksi Rumah Kreatif Film Kendal (RKFK) dengan judul “Reksa”, karya dari Mustofa, yang mana merupakan seorang senias muda berusia 19 tahun. Hal inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa semangat juga motivasi untuk diri kita, bahwa usia bukan menjadi penghalang untuk berkarya menuangkan semua pikiran kita, sekalipun di usia muda namun semua dapat digapai oleh mereka yang mau berusaha dan berdoa tanpa kenal rasa pamrih di hidupnya.
Berbicara mengenai penghalang, dibalik peluncuran film Reksa, juga terdapat persoalan yang menghambat proses suksesnya film tersebut. terutama persoalan dana pemroduksian film, yang mana memang merupakan masalah klasik sejak dari masa Usmar hingga saat ini. Namun hal itu bukan menjadi hambatan untuk para sineas dapat menuangkan ide-ide serta karyanya dan menghentikan roda keseniannya. Sebagai hasil bukti mampunya memecahkan persoalan tersebut, RKFK telah menggelar pemutaran perdana film Reksa dengan perlengkapan seadanya di Pendopo Kabupaten Kendal. Dan pada acara tersebut, kisaran 300 orang penonton tertarik untuk meramaikannya.
Film Reksa merupakan sebuah film yang diangkat dari persoalan yang begitu dekat dengan masyarakat Kendal mengenai tenaga kerja wanita (TKW). Mengingat, Kendal merupakan pengirim TKW terbanyak di Jawa Temgah selepas Cilacap. Di film Reksa di ceritakan tentang sebuah keluarga petani miskin, Sukri sebagai kepala rumah tangga, yang terlalu mengedepankan ego dan gengsinya untuk merubah keadaan ekonominya agar sama dengan tetangga – tetangganya. Hingga akhirnya harus merelakan istrinya bernama Sum untuk berangkat ke Malaysia menjadi TKW, yang sebelumnya hanya ingin menjalani kehidupannya di negerinya sendiri, begitu  juga Reksa anaknya, yang tidak mengijinkan jika ibunya berangkat ke Malaysia dan meninggalkannya. Setelah kejadian itu, keseharian Reksa nampak berantakan, hingga suatu saat, ketika ia bersekolah dengan seragam yang telah dicucinya namun belum kering. Dari sinilah yang menjadikan perasaan ganjil pemirsa atau pembaca hingga bertanya – tanya, peran apakah yang di emban sukri sebagai kepala rumah tangga.

  1. Dan rencananya RKFK akan memutar keliling film ini ke kampung – kampung , dan akan beda ceritanya jika suatu ketika film diputar dalam sebuah kampung yang ternyata didapati banyak TKW. Dan menurut saya, dengan adanya film ini akan memunculkan dua pendapat yang berbeda, entah ini akan menyinggung mereka atau menyadarkan mereka. Namun harapan saya, dengan adanya film ini akan mampu membangkitkan kesadaran  mereka agar tidak membesarkan dengan keluarga takkan pernah terbayar oleh materi. Dan jika dengan bekerja diluar negeri masih dapat mencukupi kebutuhan sehari – hari, maka menjadikan istri sebagai pencari nafkah dan mengembalikan hakikat juga perannya masing – masing, suami sebagai kepala rumah tangga istri sebagai ibu rumah tangga.

Komentar